Rabu, 09 Januari 2008

Ritual Kurban dalam Bencana

Oleh Muhammad Yusuf Chudlori

Bagi bangsa Indonesia, kehadiran Hari Raya Idul Adha dan ritual Kurban tahun ini dengan variasi bencana mulai Gempa Jogja sampai Lumpur Lapindo, memiliki makna penting untuk ditangkap dalam perspektif ajaran dan makna agama.

Ritual Kurban merupakan ritual keagamaan yang sarat nuansa simbolik-metaforis yang perlu dimaknai secara kontekstual dalam pijakan nilai-nilai universal Islam. Sementara bencana alam dan sosial yang mendera rakyat merupakan simbol wahyu Allah yang diturunkan kepada bangsa Indonesia agar merenungkan kembali atas perilaku-perilaku negatif yang sering diperbuat.

Al Quran menyeru umat Islam untuk menyelenggarakan ritual Kurban dengan menyembelih binatang unta atau lainnya, seperti sapi, kerbau, dan kambing, untuk dibagikan dagingnya kepada orang-orang miskin. Perintah Allah dalam Surat 22:36-37 yang artinya, "Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagian dari syi'ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri. Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebagiannya dan berilah makan pada orang yang rela dengan apa yang ada padanya dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur. Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridlaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu, supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik".

Ajaran Monoteisme Ibrahim
Makna Idul Adha, salah satunya terletak pada upaya meneladani ajaran monoteisme Nabi Ibrahim AS yang bersifat transformatif. Dalam perspektif Islam, pengalaman rasional dan spiritual yang dilalui Ibrahim mengantarkan kepada keyakinan tentang tauhid sebagai suatu kebenaran hakiki. Ajaran ini meletakkan Allah sebagai sumber kehidupan, moralitas, bahkan eksistensi itu sendiri.

Tanpa Allah, yang ada hanya kekacau-balauan, kehampaan, bahkan ketiadaan dalam arti sebenarnya. Keyakinan seperti itu berimplikasi langsung pada keharusan Ibrahim untuk menampakkan eksistensi itu dalam kehidupan nyata sehingga manusia dan dunia dapat menyaksikan dan "menikmati" kehadiran Sang Pencipta dalam bentuk kehidupan yang teratur, harmonis, dan seimbang (Abd A'la: 2003). Mungkin karena bangsa ini melupakan Allah dengan berperilaku korup, maka bencana didatangkan oleh Allah secara bertubi. Padahal dengan Idul Adha umat manusia diberi hak untuk melepaskan segala hawa nafsu, ambisi, dan kepentingan sempitnya sehingga dapat "menjumpai" Allah setiap saat.

Ritual Kurban juga melambangkan keharusan manusia untuk membumikan nilai-nilai itu dalam kehidupan nyata. Wahyu Allah kepada Ibrahim untuk mempersembahkan putranya yang lalu diganti binatang kurban memperlihatkan, tidak satu manusia pun boleh melakukan korupsi atau serakah menggunakan uang rakyat, meskipun uang darinya dipergunakan untuk berhaji, bersedekah, dan menyantuni anak yatim. Nilai-nilai yang merepresentasikan kedermawanan dalam ritual Kurban dalam Idul Adha perlu diaktualisasikan ke dalam realitas kehidupan dengan cara mendermakan uang yang benar-benar hasil jerih payah.

Seharusnya pengertian ini kita tangkap setiap waktu sebab setiap tahun umat Islam merayakan Hari Raya Idul Adha. Hari raya tersebut merupakan peringatan atas pengalaman rohani Ibrahim, nenek moyang agama monoteis dan Semitik, yaitu Yahudi, Nasrani, dan Islam. Dalam bentuknya yang lebih lengkap, peringatan pengalaman rohani tersebut dilaksanakan di Tanah Suci berupa ibadah haji bersama-sama oleh segenap umat Islam dari segala penjuru dunia.

Bila kita telusuri perintah berkurban dan berhaji dari latar belakang turunnya perintah tersebut hingga tata cara pelaksanaannya, akan kita temukan beberapa simbolisasi yang begitu indah dan agung tentang dimensi kemanusiaan atau ukhuwah insaniyah.

Ibrahim, melalui mimpi yang haq, menerima perintah Allah untuk menyembelih anaknya, Nabi Ismail as. Singkat cerita, setelah mendiskusikan mimpinya kepada putra tercintanya, Ismail, dan istrinya, Siti Hajar, Ibrahim berhasil membunuh "berhala" rasa cinta kepada anaknya, bahkan malah memperoleh ridha Allah, yang menganugerahinya seekor kambing sebagai hewan kurban sehingga Ismail selamat.

Pengurbanan Ibrahim dan Ismail dalam menjalankan perintah Allah tersebut memiliki makna luar biasa dalam kehidupan manusia. Betapa tidak? Kesediaan berkurban yang dilakukan Ibrahim sejatinya bermuara pada bentuk atau perwujudan kepedulian sosial (Nurcholish Madjid: 2004).

Apalagi, sebagaimana kita ketahui, dari peristiwa yang dialami Ibrahim tersebut muncul perintah Allah kepada umat Islam untuk menyembelih hewan kurban. Pengurbanan dengan memotong hewan ternak adalah perwujudan kepedulian sosial. Mengapa hewan ternak? Sebab, pada zaman Ibrahim, kepemilikan terhadap hewan ternak merupakan pertanda atau lambang kekayaan tertinggi dari seseorang.


Tidak Melakukan Korupsi
Lalu, ketika bangsa kita penuh bencana akhir-akhir ini, bagaimana kita mampu mengaktualisasikan nilai-nilai semangat kurban tersebut dalam kehidupan sehari-hari sehingga bermakna luas bagi perbaikan kondisi bangsa Indonesia yang terus-menerus dilanda bencana?

Di sini terdapat kesinambungan pelajaran yang diwariskan Ibrahim kepada masyarakat zaman sekarang. Bahwa kesediaan manusia untuk berkurban mestinya jauh melampaui daripada sekadar menyembelih kambing atau hewan ternak lainnya. Adalah dengan berkurban tidak melakukan korupsi demi teratasi bencana bangsa secara nasional.

Tidak hanya itu. Semangat berkurban –dengan tidak hanya menyembelih hewan ternak- sangat relevan dengan kondisi bangsa Indonesia sekarang yang sedang diuji Allah dengan banyak malapetaka. Bencana dari Gempa Jogja sampai Lumpur Lapindo merupakan bencana “kecil”.

Masih banyak bencana besar berupa problem sosial warga Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan, anak-anak putus sekolah, minyak mahal tak terjangkau rakyat, beras langka sehingga (di)mahal(kan) atau kualitas kesehatan masyarakat yang menurun karena ketidakmampuan mereka mengakomodasi biaya pengobatan yang melonjak dari hari ke hari, memerlukan kurban berupa solideritas seluruh elemen bangsa untuk mengatasinya dengan cara tidak melakukan korupsi.

Akhirulkalam, sesungguhnya kemunculan bencana merupakan sebab yang lahir akibat tindakan bangsa Indonesia sendiri yang Buta mata dan tipis telinga karena dikuasai hawa nafsu kebinatangan yang ada dalam dirinya. Dalam konteks kebangsaan, semangat berkorban untuk menyembelih nafsu kebinatangan dalam diri kita masing-masing menjadi sesuatu yang amat penting guna menjaga dan menjauhkan bangsa Indonesia dari bencana alam maupun bencana sosial. Wallahu a’lam bish-shawab.

Muhammad Yusuf Chuldori adalah pengasuh Asrama Perguruan Islam (API) Pondok Pesantren Salafi Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah
Alamat: Jl. Raya Kopeng KM. 7 Tegalrejo Magelang Telp. 08122714640, 0293-312848

Menggembleng Jasmani dan Rohani

Oleh Muhammad Yusuf Chudlory

Di bulan suci Ramadhan, gerakan keberagamaan umat Islam menggeliat dahsyat. Hal ini tercermin melalui aktivitas umat yang di-cover beragam media, baik cetak maupun elektronik. Ada kesan kuat umat saling berlomba menjadi manusia paling shaleh, sesuai perintah Allah SWT agar berlomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat). Komunitas Muslim di berbagai tempat membanjiri masjid, mushala, dan majelis taklim. Alunan suara tadarrus al-Qur’an menggema dari pengeras suara. Orang-orang yang kelebihan harta berlomba menyediakan makanan buka puasa. Mereka terlihat pemurah dengan jalan mudah berderma kepada fakir miskin.
Mengikuti pergerakan keberagamaan tersebut, teve tidak mau ketinggalan. Program acara agama dengan modifikasi dan kompromi budaya pop menjadi trend untuk sementara waktu. Ada ceramah agama dalam setting masjid, taman, dan kafe. Kebanyakan sinetron bertema religius. Ada humor Ramadhan menjelang sahur. Hampir semua teve menyajikan pengajian menjelang maghrib. Di radio beragam program agama bermunculan: kultum (kuliah tujuh menit), kutipan cerita sahabat, kutipan hadits/ayat, sandiwara bertema Ramadhan, dan lagu-lagu rohani diputar berkali-kali. Suasana di atas jarang kita jumpai pada bulan-bulan lain.
Bagi sebagian orang, pergerakan keberagamaan tersebut cukup menggembirakan. Namun jika diperhatikan isi acara-acara keagamaan yang ada, sebagian masih memprihatinkan. Banyak hal membuat miris karena kental nuansa formalistik dan simbolik. Padahal ketika ibadah hanya berhenti secara formalistik dan simbolik sama dengan memiskinkan makna ibadah itu sendiri.
Pada titik ini, ritual keagamaan semacam itu dapat ditangkap sebagai topeng bagi wajah yang sesungguhnya (buruk). Sebab kekhusyuan simbolik hanya menjadi bedak wajah (Jawa: pupur rai) agar terlihat cantik secara agama alias tidak meresap ke dalam relung kalbu. Hal ini sering disebut sebagai upaya mempertuhankan simbol agama. Kenapa kita mudah berlaku percuma dengan mempertuhankan simbol? Karena kita mudah silau dengan kemasan dan selalu ingin cepat mendapat sesuatu tanpa mau bersusahpayah mendalami ilmunya. Lalu, bagaimana cara beribadah di bulan Ramadhan agar menjadi tidak simbolik? Ya latihan bersungguh ibadah.
Ada empat makna puasa sebagai latihan agar ibadah tidak menjadi simbolik. Pertama, latihan memahami kaidah dan hikmah yang terkandung di balik ibadah tersebut. Jalan terbaiknya belajar dari orang-orang yang mengetahui. Ulama salaf mengingatkan: “Barangsiapa yang beramal tetapi tidak mengetahui ilmunya maka amalnya akan tertolak.” Karena itu sebelum beramal kita mesti belajar ilmu agama yang tidak terbatas pada ustadz atau pesantren. Tetapi bisa belajar melalui buku, media massa, dan internet. Dengan demikian ibadah tidak sekedar ritual tetapi menghayati nilai-nilai yang bersemayam di dalamnya.
Kedua, latihan istiqamah (Jawa: ajeg) dalam mengerjakan ibadah. Sebuah pekerjaan yang dilaksanakan dengan istiqamah akan melahirkan kebiasaan, dan selanjutnya menjadi karakter pribadi. Ibadah yang mampu menempa diri mengubahnya menjadi kepribadian yang mulia. Dengan intensif beribadah mengantarkan hati dan jiwa untuk selalu di jalan-Nya. Upaya pembiasaan ibadah selama satu bulan akan mengubah paradigma keberagamaan. Dari beragama secara simbolik menuju beragama penuh nilai dan makna.
Ketiga, latihan meninggalkan hawa nafsu negatif (an-nafs al-lawamah) selama beribadah agar mengantar ke perubahan sikap mental. Keinginan maksiat merupakan godaan yang jarang bisa dihindari di bulan lain. Tetapi di bulan Ramadhan, karena sebagian besar masyarakat menjalankan ibadah puasa, maka kita sebagai bagian dari masyarakat itu, lebih mudah untuk menolak hawa nafsu karena lingkungan mendukung. Mental yang sebelumnya lemah dan mudah tergoda bisa kokoh seperti batu karang.
Keempat, latihan beribadah mandiri (riyadlah). Ramadhan merupakan rempat belajar menghadapi realitas hidup untuk bulan-bulan berikutnya. Ramadhan mengajak kita merasakan derita fakir miskin. Kepekaan sosial kita diuji sehingga sadar bahwa kehidupan tidak selamanya harus selalu sukses. Kita bisa berjaya di puncak kesuksesan, sebaliknya bisa terpuruk di kelas terbawah di mana sangat memerlukan bantuan orang lain. Di sinilah pentingnya kesadaran berbagi kepada sesama.
Dengan empat latihan (penggemblengan) di bulan Ramadhan itu, yang asalnya jelek menjadi baik, yang asalnya hina menjadi mulia. Apabila latihan-latihan seperti itu bisa dilakukan di bulan lain, maka itulah pelajaran yang diharap, agar usai Ramadhan iman tidak putus di tengah jalan. Apabila puasa, tadarrus, dan shalat malam dilakukan di luar Ramadhan, ketika tujuan yang diharapkan juga sama, yaitu sama-sama demi iman dan takwa, maka nilai-nilai Ramadhan bisa kita raih di luar Ramadhan.
Akhirul kalam, puasa bertujuan mencetak umat bertakwa. Amaliah Ramadhan, mulai dari puasa, shalat tarawih, tadarrus al-Qur’an, sadaqah, dan ibadah sunnah lainnya dicipta untuk menggembleng jasmani dan rohani menuju insan kamil (manusia seutuhnya) dan insan muttaqin (manusia bertaqwa).
Semoga ibadah puasa kita diterima Allah SWT sehingga mampu mengubah perilaku dan mental kita dari pesimis menjadi optimis lalu berjiwa kuat seperti Rasulullah SAW. Amin.*

MUHAMMAD YUSUF CHUDLORY, Pengasuh Asrama Perguruan Islam (API) Pondok Pesantren Salafi Tegalrejo Magelang, Pjs. Ketua DPW PKB Jawa Tengah